Memilih apartemen bukan sekadar soal harga, lokasi, atau luas unit. Bagi banyak orang, keputusan membeli hunian sangat dipengaruhi oleh kepribadian. Cara kita memproses informasi, mengambil keputusan, hingga membayangkan gaya hidup ideal ternyata berkaitan erat dengan tipe kepribadian atau MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Karena itulah, tidak ada dua perjalanan membeli properti yang benar-benar sama. Apartemen yang terasa “sempurna” bagi satu orang, bisa jadi terasa kurang cocok bagi orang lain dengan kepribadian berbeda.
Di kota besar seperti Jakarta, pilihan apartemen sangat beragam, mulai dari unit studio praktis hingga apartemen high-rise dengan fasilitas lengkap. Pencarian akan best apartment in Jakarta sering kali berujung pada satu kesimpulan, apartemen terbaik adalah yang paling sesuai dengan karakter dan kebutuhan personal penghuninya. Kepribadian memengaruhi apakah seseorang cepat mengambil keputusan atau butuh waktu lama, menyukai data dan angka atau lebih mengandalkan perasaan, serta apakah mereka nyaman dengan struktur yang jelas atau fleksibilitas.
Introvert vs Ekstrovert
- Introvert (I)
Lebih menyukai apartemen yang tenang, memiliki privasi tinggi, pencahayaan alami yang baik, serta tata ruang fungsional. Lingkungan yang tidak terlalu bising dan unit dengan balkon sering menjadi pilihan ideal.
- Ekstrovert (E)
Cocok dengan apartemen di kawasan ramai, dekat pusat hiburan, kafe, dan area komersial. Fasilitas seperti co-working space, lounge, rooftop, dan area komunal menjadi nilai tambah karena mendukung interaksi sosial.
Sensing (S) vs Intuition (N)
- Sensing (S)
Fokus pada hal konkret seperti kualitas bangunan, layout unit, kapasitas penyimpanan, dan kondisi lingkungan sekitar. Apartemen dengan desain rapi, efisien, dan spesifikasi jelas sangat menarik bagi tipe ini.
- Intuition (N)
Lebih tertarik pada potensi jangka panjang. Mereka mempertimbangkan kemungkinan renovasi, perkembangan kawasan, dan bagaimana apartemen tersebut mendukung gaya hidup masa depan.
Thinking (T) vs Feeling (F)
- Thinking (T)
Mengandalkan logika dan data. Mereka tertarik pada apartemen dengan harga kompetitif, potensi ROI yang jelas, dan rekam jejak pengembang yang baik. Angka dan perbandingan menjadi dasar keputusan.
- Feeling (F)
Mengutamakan perasaan dan kenyamanan emosional. Suasana unit, vibes lingkungan, serta kecocokan dengan nilai hidup lebih penting daripada sekadar angka.
Judging (J) vs Perceiving (P)
- Juding (J)
Menyukai proses yang terstruktur dan efisien. Mereka cenderung memilih apartemen dengan pilihan terbatas namun kurasi jelas, serta jadwal pembelian yang pasti.
- Perceiving (P)
Menikmati eksplorasi dan fleksibilitas. Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk membandingkan berbagai opsi dan tidak nyaman dengan tekanan keputusan cepat.
Contoh kecenderungan hunian berdasarkan tipe MBTI menunjukkan bahwa individu dengan tipe ENFJ atau ENFP cenderung menyukai apartemen modern dengan desain yang menarik serta memiliki area sosial yang aktif untuk berinteraksi. Sementara itu, pemilik kepribadian INFJ atau INFP lebih memilih unit yang cozy dan tenang, dilengkapi sentuhan personal serta nuansa hangat yang mendukung kenyamanan emosional.
Berbeda dengan itu, tipe ISTJ atau ESTJ umumnya tertarik pada apartemen yang fungsional, rapi, dan efisien, dengan sistem pengelolaan yang profesional dan tertata baik. Adapun individu dengan tipe ENTP atau ESFP cenderung memilih apartemen yang menawarkan berbagai lifestyle amenities serta berlokasi strategis di area yang dinamis dan hidup.
Pada akhirnya, apartemen ideal adalah hunian yang selaras dengan siapa diri kita sebenarnya. Dengan mengenali kepribadian dan gaya pengambilan keputusan, pencarian best apartment in Jakarta bukan lagi sekadar berburu properti, melainkan perjalanan menemukan ruang hidup yang benar-benar terasa “rumah”.
