Memilih antara motor listrik dan motor bensin sekarang bukan cuma soal gaya hidup, tapi sudah jadi hitung-hitungan ekonomi yang serius. Kalau kamu sedang menimbang mana yang lebih hemat untuk dipakai harian, mari kita bedah simulasinya dalam setahun pemakaian.
Anggaplah dalam sehari kamu menempuh jarak rata-rata 30 km, atau sekitar 10.950 km dalam setahun. Berikut perbandingannya:
Biaya energi: Bensin vs Listrik
Motor bensin rata-rata butuh 1 liter Pertalite untuk 45 km. Dengan jarak 10.950 km, kamu butuh sekitar 243 liter bensin. Kalau harga Pertalite Rp10.000 per liter, total pengeluaran bensin setahun mencapai Rp2.430.000.
Sementara itu, motor listrik biasanya butuh sekitar 30 kWh untuk jarak yang sama. Jika tarif listrik rumah tangga Rp1.444 per kWh, biaya cas setahun hanya sekitar Rp476.000. Selisihnya sangat terasa; kamu bisa menghemat hampir Rp2 juta hanya dari sektor energi saja. Uang ini bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Perawatan dan servis rutin
Motor bensin punya banyak komponen yang harus diganti berkala, seperti oli mesin setiap 2.000 km, busi, hingga filter udara. Dalam setahun, kamu mungkin perlu 5-6 kali ke bengkel dengan total biaya servis dan ganti “spare part” sekitar Rp800.000 hingga Rp1.000.000.
Motor listrik jauh lebih simpel karena tidak punya mesin pembakaran. Tidak ada urusan ganti oli atau busi. Perawatan biasanya cuma fokus pada ban, kampas rem, dan pengecekan sistem kelistrikan. Biaya servis tahunannya mungkin hanya sekitar Rp200.000 sampai Rp300.000. Penghematan di sektor pemeliharaan ini cukup signifikan buat anggaran bulanan kamu.
Pajak kendaraan tahunan
Pemerintah saat ini memberikan dukungan penuh untuk kendaraan listrik melalui insentif pajak. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) untuk motor listrik sangat murah, sering kali hanya di kisaran Rp50.000 sampai Rp100.000 per tahun.
Bandingkan dengan motor bensin sekelas 110cc-125cc yang pajaknya biasanya ada di angka Rp250.000 sampai Rp350.000. Ini adalah penghematan pasti yang bisa kamu nikmati setiap kali datang ke Samsat.
Nilai jual dan depresiasi
Kamu perlu paham soal depresiasi, atau penurunan nilai barang setelah dipakai. Motor bensin saat ini memang punya pasar barang bekas yang lebih stabil karena peminatnya sudah banyak. Motor listrik masih dalam tahap berkembang, jadi harga jual kembalinya mungkin sedikit lebih fluktuatif. Namun, seiring makin banyaknya stasiun pengisian baterai, minat orang terhadap motor listrik bekas diprediksi akan terus naik.
Mengatur skema pembayaran yang cerdas
Kalau kamu merasa harga beli motor listrik di awal masih cukup tinggi, penggunaan skema cicilan bisa menjadi solusi agar neraca keuangan tetap aman. Kredivo PayLater menawarkan pilihan cicilan barang yang transparan untuk membantumu memiliki kendaraan impian tanpa harus menguras tabungan sekaligus.
Tersedia fitur cicilan 30 hari 0% Bunga & Admin yang sangat membantu mengatur napas keuangan. Prosesnya juga simpel, cukup daftar secara online tanpa perlu dokumen fisik yang merepotkan. Untuk member Premium, tersedia limit hingga Rp50 juta dengan bunga cicilan mulai 1,99% per bulan.
Layanan ini sudah terdaftar resmi di OJK, jadi kamu bisa bertransaksi dengan tenang. Kuncinya, selalu pilih tenor yang sesuai dengan kemampuan bayar kamu supaya rencana hemat energi ini tetap sejalan dengan kesehatan finansial jangka panjang.
Jika ditotal antara biaya energi, servis, dan pajak, motor listrik bisa menghemat pengeluaran kamu sekitar Rp2,5 juta sampai Rp3 juta per tahun dibandingkan motor bensin. Angka ini tentu cukup besar untuk menambah saldo tabungan atau dana darurat kamu.
